Yerusalem

rami1.jpgrami1.jpg 

Oleh Yusran Pare Bandung, 25/10/00

VERA sengaja dipilih untuk tampil solo membawakan in­tro seka­ligus kemudian sebagai lead vocal, dan solo pada chorus, tentu de­ngan beberapa alasan. Pertama, tentu vokalnya yang tipis dan ta­­jam bagai pedang akan cocok un­tuk ‘menjeritkan’ dramatika derita kor­ban-korban perang. Kedua, wajahnya yang cantik dengan hidung ba­ngir –mirip wa­jah khas Meditrania– dan resam tubuhnya yang jang­­­­kung, pas untuk membawakan lagu dengan tema inti pada konflik Timur Tengah itu.

Be­tul saja. Saya merinding ketika menyaksikan kembali tayangan Lingga Binangkit ini pada siaran televisi nasi­onal untuk menyemarakkan per­ingatan Isra Miraj. Adegan klimaks de­­­­ngan Vera (dan terutama vo­kalnya) sebagai ti­tik utama be­tul-betul menancapkan kesan yang men­dalam. Iringan Pur­watja­raka lewat orkestra ‘tunggal’nya yang nya­­ris tak kalah dengan sebuah simponi lengkap, memperkokoh ba­ngunan suasana haru-biru kemelut zona perang yang hendak dieks­­presikan.

……………..
Yerusalem,
Kota Suci Masa Silam
Yarusalem,
Seolah damai telah tiada.
Kisah panjang sebuah bangsa
terusir dari tanah-Nya,
berkelana penuh derita
entah kapan kan berakhir
……………….

Itulah nukilan dari syair yang saya gubah untuk lagu Yerusa­lem, yang no­­­­tasinya ditulis Djuhari –seorang komponis tua Ban­dung yang la­gunya pernah sangat terkenal di tahun 60-an Seuntai Manikam untuk melukiskan keindahan, kecemerlangan dan kedamaian Nusantara– dan aransemennya disusun Purwatjaraka, insinyur jebol­an ITB yang ‘tersesat’ di belantika musik.

Itu tahun 1988. Boleh jadi, saat itu Rami Al­durra dan Mohammed An‑Najjra, ba­­ru –atau bahkan belum– dilahirkan. Dan Vera, saat itu su­dah pas­­ti belum jadi nyonya Elfa Secioria.

Saya teringat kembali pe­nampilan Vera dalam Yerusalem itu, ke­tika menyaksikan tayangan te­le­visi Perancis awal Oktober. Rami –bocah 12 tahun– itu tersungkur tewas di pangkuan ayahnya yang meringkuk, beru­sa­ha berlindung dari hujan peluru. Tubuh ringkih bocah itu di­ko­yak-koyak peluru yang daitabur serdadu Yahudi di Yerusalem, (sekuen foto yang diambil dari rekaman videonya ini kemudian disiarkan secara luas oleh media cetak).

Sedangkan An‑Najjra, tewas dengan lubang di kening dan bela­kang kepalanya. Peluru tajam yang dilepas ser­dadu Israel, dengan mu­dah menembus tulang muda batok kepala anak itu di Khan Yunis, se­latan Jalur Gaza, dua minggu setelah Rami gugur dan dimakamkan lewat proses yang emosional.

Aldurra dan An-Najjra ser­­ta bocah-bocah tang­gung lainnya yang bergelimpangan itu, hanyalah sebagian di antara lebih 120 (sam­pai pekan ketiga Oktober) war­ga Palestina yang tewas ditem­baki ser­dadu Yahudi. Se­jak konflik meletus lagi menyusul provo­kasi bekas Menteri per­tahanan Israel Ariel Sharon, Yarusalem kini kem­bali diperciki darah para syu­hada.

Ya, Yerusalem. Kota Suci sepanjang masa, tonggak Mi­raj-nya Mu­­­ham­mad me­nuju Sidratul Muntaha, melanjutkan Isra dari tepi Ka­bah di bawah bimbingan Jibril. Disebut tempat suci, karena pada ti­tik –di mana kini berdiri Masjidil Aqsha– inilah, Muhammad sembahayang se­belum ‘bertolak’ menemui Sang Khalik, menyem­pur­na­kan kerasulannya.

Karena itulah, sangat bisa dipahami jika umat Islam marah ke­­­­tika Ariel Sharon ujug-ujug petantang-petenteng ke Baitul Maq­dis. Sejak beberapa lama nama Sharon yang tenggelam, kini hampir tiap ha­ri disebut-sebut lagi di media massa seluruh dunia, menyu­sul la­­­wat­annya Kamis 28 September yang menyulut amarah dan ke­mudian mem­bangkitkan kembali intifada yang berdarah-darah itu.

Sharon diberhentikan oleh Menachem Begin –ketika itu Per­da­­na Menteri Israel– dari jabatannya selaku Menteri Pertahanan ber­­kaitan dengan trgedi Sabra dan Shatila, kamp pengungsi Pa­les­tina di barat Beirut, Lebanon. Itu pun atas tekanan dunia in­terna­si­onal. Orang tak akan per­nah lupa pem­bantaian 16 Sep­tember 1982 oleh pasukan milisi Fa­langis dukungan Sharon. Se­dikitnya 300 war­ga Arab, umumnya wa­nita dan anak‑anak, tewas ber­kuah darah di barak pengungsian Sabra dan Shatila.

Sharon mengomandokan penyerbuan besar‑besaran ke Libanon Se­latan tahun 1982 dengan dalih mengusir pejuang Organisasi Pem­be­bas­an Palestina (PLO) pimpinan Yasser Arafat. Katanya sih, ins­truksi penyerbuan ini disusun secara rahasia oleh Sharon tanpa kon­­sultasi ke Knesset, parlemen Israel. Makanya –setelah korban bergelimpangan, dan dunia mengecam– kalangan anggota Knesset me­nentang keras penyerbuan ke Lebanon. Tapi akhirnya mereka toh me­nyetujui pencaplokan atas wilayah Lebanon Selatan.

Sejak Israel memproklamasikan kemerdekaannya tahun 1948, se­tidaknya tercatat empat peperangan dahsyat antara bangsa Arab dan Yahudi, yakni perang tahun 1948, 1956, 1967, dan tahun 1973. Pe­rang tahun 1967 Israel berhasil mencaplok Semenanjung Sinai dan Ja­­lur Gaza di Mesir; Jerusalem; Tepi Barat Sungai Yordan di Yor­dania; dan Dataran Tinggi Golan di Su­riah.

Sedangkan pada Perang Oktober 1973 yang bertepatan dengan Yom Kipur, Hari Suci dalam kalender Yahudi, dan Bulan Suci Ra­ma­dan bagi umat Islam, giliran bangsa Arab (Mesir) mengungguli pe­rang besar yang mereka analogikan dengan ‘Perang Badr II’ itu. Tak kurang dari 2.700 serdadu Israel tewas. Dan, Bar Lev, kawasan Me­sir di semenanjung Sinai yang dicaplok Israel tahun 1967, kem­bali ke pangkuan Mesir.

Nah, ‘keunggulan’ Arab dan ‘kekalahan’ Israel pada perang 19­67 ini­lah yang akhirnya memaksa Israel bersedia maju ke meja pe­run­dingan damai. Namun, itu pun memerlukan proses yang lama dan ber­belit –sekitar 12 tahun– sehingga baru diteken di Camp David (AS), tahun 1979. Meski, kita tahu semua, sesungguhnya Israel tak per­­nah konsisten. Akibatnya, konflik ber­darah te­rus melumuri Yerusalem serta kota-kota lain di jazirah itu.

Itu pula yang bikin gregetan pihak mana pun yang selama ini men­­junjung tinggi perdamaian dan penghormatan penuh atas hak asa­si manusia. Di antara bangsa Yahudi sendiri, banyak yang lebih cin­­­ta kerukunan hidup dengan bangsa Arab ketimbang terus-menerus baku serang. Demikian halnya di kalangan bangsa Arab. Sosok Yas­ser Arafat dan Shimon Perez bisa mewakili dua kutub yang bertemu pada titik kepentingan sama itu: perdamaian.

Semangat itu pula yang menggerakkan para tokoh politisi, aga­­­mawan, dan ilmuwan dunia, mau bergabung dalam yayasan untuk per­damaian yang diprakarsai Shimon Perez. Termasuk dalam barisan ini ada­lah KH Abdurrahman Wahid yang ketika itu sebagai cende­ki­awan Is­­lam terkemuka dari Indonesia, sekaligus pemimpin jutaan Nah­dliyin.

Namun di Indonesia, situasinya bisa lain lagi. Kedudukan Gus Dur pada yayasan itu belakangan dipersoalkan, malah dijadikan amu­­nisi untuk mem­be­rondong kedudukannya pada kursi presiden. De­ngan mengambil mo­men­tum kebiadaban Israel atas bangsa Palestina yang dipicu insi­den di Yerusalem, orang mendesaknya untuk keluar dari yayasan itu se­bagai pernyataan sikap keberpihakan Indonesia kepada pen­de­ri­ta­an rakyat Palestina.

Orang lupa, bahwa yayasan itu didirikan dengan tujuan meng­galang upaya-upaya perdamaian. Keluar dari organisasi itu, atau bahkan membubarkan sekaligus lembaga tersebut, tidaklah menjamin bang­sa Palestina akan bebas dari penindasan Israel.

Begitu pun, ji­ka ditakdirkan Palestina memenangkan perti­kai­an ini atas dukungan dan keberpihakan negara-negara lain, tak ada yang bisa menjamin bangsa Israel bebas dari pe­nindasan bangsa Arab, atau bahkan mungkin upaya pe­mu­nahan –karena di­anggap jadi biangkerok kekacauan– sebagaimana per­nah dilakukan re­­zim Hitler da­hulu akan terulang lagi.

Jika ini yang terjadi, maka keadaan akan te­rus demikian, se­bab hidup tidak lagi dilandasi cinta kasih se­jati sebagai sesama mah­­luk cipataan Tuhan. Perdamaian tak akan pernah terwujud selama hu­bungan antarumat manusia dilandasi kebencian dan balas dendam, seperti yang tengah terus berkecamuk di Palestina-Israel.

 

Di Tepi Barat, menjerit ribuan umat.
Siksa ganas membara di sepanjang Jalur Gazza.
Seperti Sabra dan Shatila, saat insan lupa sesama.
Hidup dalam dendam membara, antara darah darah dan ama­rah.
……… Yerusalem, Yerusalem, Yerusalem.
(Nukilan syair refrein Yerusalem – 1988).
Iklan

~ oleh linggabinangkit pada Oktober 3, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: